Program Pascasarjana Gelar Rapat Pendirian S3 Program Studi Studies Islam

avatar Wahyu Anggara
Wahyu Anggara

39 x dilihat
Program Pascasarjana Gelar Rapat Pendirian S3 Program Studi Studies Islam

Program Pascasarjana melaksanakan rapat pembukaan Program Studi Doktor (S3) Studi Islam pada Kamis, 26 Februari 2026, pukul 09.00 WIB hingga selesai. Rapat tersebut mengusung agenda pembahasan Tim Pendirian S3 Program Studi Studi Islam, sebagai langkah awal dalam proses pengajuan dan persiapan pembukaan program doktoral.

Rapat dihadiri oleh Prof. Dr. H. Hatamar, M.Ag; Prof. Dr. H. Zayadi, M.Ag; Dr. Hendra Cipta, M.S.I; Prof. Dr. Hadarah, M.Ag; Dr. Wulpiah, M.Ag; Dr. Febrino, M.A.; Dr. H. Ahmad Fadholi, M.S.I; Dr. Subri, M.S.I; Dr. Rada, M.Pd.I; Dr. Ahmad Irvani, M.Ag; Priyanggo Karunia Rahman, M.M.S.I; Hj. Himmatul Ulyah, M.A.; Dr. Nurlaila, M.Pd.I; Atikah Dewi Utami, M.Si; Dr. Dinar Pratama, M.Pd; Selpi Egitya, S.E.; serta Ahmad Abdullah, S.Pd.I.

Pembahasan Sumber Daya Manusia (SDM)

Dalam rapat tersebut, Prof. Dr. H. Zayadi, M.Ag menegaskan bahwa Senat mendukung penuh pendirian program studi, dengan catatan kelengkapan sumber daya manusia harus benar-benar dipastikan. Menanggapi hal itu, Dr. Hendra Cipta, M.S.I menjelaskan bahwa pada isian kriteria SDM telah dicantumkan tujuh profesor yang ada di IAIN SAS beserta sejumlah dosen dan karya ilmiahnya sebagai penguat reputasi akademik.

Dr. Ahmad Irvani, M.Ag menambahkan bahwa syarat minimal dosen untuk pembukaan prodi adalah lima orang, namun LPM menyiapkan enam dosen sebagai langkah antisipatif apabila terdapat dosen yang tidak lolos verifikasi. Ia juga menekankan pentingnya dosen yang memiliki homebase di S2 untuk mendukung kesinambungan akademik.

Sementara itu, Prof. Dr. Hadarah, M.Ag menyampaikan bahwa keterbatasan jumlah profesor bukan menjadi hambatan, sebagaimana pengalaman di Ternate yang tetap dapat berjalan dengan dukungan dosen luar. Terkait keuangan, ia optimistis institusi mampu membiayai kebutuhan tambahan dosen apabila diperlukan.

Distingsi dan Konsentrasi Keilmuan

Isu utama lainnya adalah penentuan distingsi (keunikan) program studi. Dr. Hendra Cipta, M.S.I menekankan bahwa distingsi harus memperkuat Studi Islam dan memiliki daya saing tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga nasional dan internasional.

Prof. Dr. H. Hatamar, M.Ag mengusulkan distingsi “Harmoni Sosial” yang berakar pada konsep moderasi beragama, dengan kekhasan lokal Bangka sebagai konteks pengembangan kajian. Hal ini diperkuat oleh Prof. Dr. H. Zayadi, M.Ag yang menyebutkan bahwa harmonisasi sosial merupakan induk dari moderasi beragama dan relevan dengan berbagai studi nasional maupun internasional, termasuk kajian antropologis dan akulturasi budaya.

Dr. Subri, M.S.I mengingatkan agar distingsi prodi harus selaras dengan visi dan misi IAIN. Senada dengan itu, Dr. Ahmad Irvani, M.Ag menegaskan bahwa visi keilmuan prodi harus relevan dengan visi institusi, termasuk UPS, UPPS, serta merujuk pada RIP dan Renstra sebagai standar mutu.

Dalam hal konsentrasi, Dr. Dinar Pratama, M.Pd menyampaikan bahwa fokus utama harus jelas dan berbasis pada ketersediaan dosen. Ia juga menyarankan agar dilakukan survei terhadap calon mahasiswa untuk memprediksi minat konsentrasi yang akan diminati. Selain itu, ia mengingatkan bahwa pada jenjang S2 harus terdapat minimal dua program studi dengan predikat Baik Sekali sebagai syarat pendukung.

Dr. H. Ahmad Fadholi, M.S.I menambahkan bahwa setiap konsentrasi minimal memiliki satu dosen yang sesuai dengan bidang keilmuannya, serta terdapat dosen yang memiliki homebase di S3. Konsentrasi tidak dibatasi selama tersedia dosen yang kompeten, dan pada akhirnya mahasiswa juga memiliki peran dalam menentukan bidang minat.

Tindak Lanjut dan Pembentukan Tim

Sebagai tindak lanjut, Dr. Wulpiah, M.Ag mengusulkan penetapan sekretaris serta penyusunan time schedule kerja. Setiap tim diminta untuk merumuskan tugasnya masing-masing, termasuk pembentukan tim kecil di bidang kurikulum untuk menyiapkan rancangan konsentrasi. Guru besar juga akan diundang dalam proses perumusan lebih lanjut, dengan jadwal kerja direncanakan pada hari Senin hingga Kamis.

Rapat ditutup dengan komitmen bersama untuk mempercepat penyusunan dokumen akademik dan administratif, guna merealisasikan pembukaan Program Studi Doktor (S3) Studi Islam yang unggul, relevan, dan berdaya saing.